Tampilkan postingan dengan label Kelas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kelas. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Mei 2019

Jadi Guru harus mengerti dunia anak

Guru ditengah Permasalahan Sosial Anak di Sekolah.


Sebagai guru kelas yang menemani kegiatan anak-anak di kelas selama jam pelajaran, membuat kami (para guru kelas) mengamati dan berperan langsung dalam setiap tingkah laku peserta didik di dalam kelas. Sekolah yang menjadi salah satu tempat paling berpengaruh dalam perkembangan sosial peserta didik menjadi ajang bagi mereka untuk menunjukkan diri pada orang-orang di sekitarnya. Tidak dapat dihindari, berbagai masalah terjadi di dalam kelas, mulai dari masalah ringan (terjadi dalam kurun waktu singkat) sampai yang kompleks (berlarut-larut).

Anak-anak memiliki berbagai macam komposisi sifat yang berbeda-beda, ditambah dengan segala macam pikiran mereka yang tidak bisa ditebak oleh orang dewasa. Salah satu masalah yang sering terjadi antar siswa dan beberapa siswa lainnya adalah saling membenci dan merasa di benci.

Dalam satu tempat bermain dan tempat sosial yang diisi oleh banyak orang, tentu saja ada satu saat kita merasa tidak cocok dengan salah satu orang. Satu saat, artinya tidak selalu. Sama seperti di dunia sosial anak, ada satu saat dimana anak A merasa tingkah anak B membuatnya tidak suka (meski pada kenyataannya berawal dari masalah sederhana, rasa iri karena nilai bagus, rasa kecewa karena tingkah yang menyebalkan, dll). Hal ini berlanjut dengan anak A yang membicarakan apa yang dia rasakan pada anak B ke teman-temannya yang lain (kita sebut ini adalah curhat), sementara anak B tahu dengan hal itu dan merasa bahwa anak A dan teman-temannya membencinya. Dan pada akhirnya kejadian ini menjadi berlarut-larut karena tidak ada komunikasi yang baik antara anak A dan B. Kejadian ini sering terulang dengan anak-anak yang berbeda. Durasi antar anak-anak yang saling membenci (tidak bermain bersama) itu bisa sampai 1-5 hari.

Sebagai guru kelas, kami harus pintar-pintar memahami situasi ini dan menjadi penengah dengan memberikan pengertian-pengertian tentang pentingnya berprasangka baik dan saling memaafkan dengan bahasa mereka. Menjadi jembatan komunikasi anak-anak, kami harus selalu siap mengadakan sidang (mengecek masalah dari anak-anak yang bermasalah dari sudut pandang masing-masing anak) dan memberikan umpan balik berupa nasehat dan koreksi.

Dalam hal ini, kita perlu menekankan pentingnya berprasangka baik. Mulai dari yang sederhana, kami memberi pengertian bahwa mereka semua tidak bisa menghindari rasa tidak cocok satu sama lain. Artinya, mereka semua pasti ada saatnya tidak suka dengan tingkah atau perkataan temannya, tapi yang perlu diingatkan pada anak-anak adalah hal itu bukan berarti akan menjadi rasa benci yang selamanya.

Kedua sebagai penengah dan jembatan bagi anak-anak yang sedang bermasalah, kita perlu membuat anak-anak tersebut saling menyampaikan apa yang dirasakannya. Hal ini tentu karena akar dari masalah sederhana itu adalah saling bercerita ke teman lain yang tidak bersangkutan. Disinilah peran guru kelas yang tidak boleh dilewatkan. Kami harus bergerak cepat memahami anak-anak dan mengajak mereka berbicara.

Ketiga, kita perlu mengkaitkan ajaran agama sebagai penutup, yaitu pentingnya saling memaafkan. Tentu banyak sekali hal-hal agama yang bisa mengetuk hati anak-anak dalam mengatasi masalah, dan dengan menghubungkan hal agama itu langsung dengan masalah yang mereka hadapi semakin membuat mereka paham bahwa ajaran agama adalah pegangan mereka dalam berbagai hal.

Terakhir, sebagai orang dewasa (tidak hanya guru) kita perlu memahami situasi permasalahan sosial anak dan menjadi penengah yang baik tanpa mengatakan dan menghakimi salah satu dari mereka bersalah. Pintar-pintarlah menjadi penengah yang memberikan pengertian cara bersosialiasi yang baik.

By. Ayi Y Meryana

Sabtu, 30 Maret 2019

Sepenggal Cerita Dibalik Ujian Praktek SBdB


Kata ujian selalu menjadi kata menyeramkan bagi siswa apalagi jika ujian yang akan dihadapi adalah ujian yang mereka tidak senangi, seakan-akan ujian itu adalah aktivitas akhir yang harus diselesaikan untuk dapat dikatakan sebagai pelajar yang berhasil atau sebaliknya sebagai pelajar yang gagal.

Kali ini siswa kelas 6 SD Muhammadiyah I Malang juga seakan berada pada posisi yang sama yaitu khawatir jika nilai yang mereka dapatkan nanti tidak memuaskan atau bahkan sangat jelek, salah satu kekhawatiran tersebut terlihat saat mereka akan mengikuti ujian praktek SBdB.

Hal menarik dari ujian praktik SBdB tahun ini adalah ketika beberapa siswa yang mendatangi guru untuk bertanya tentang ujian praktik SBdP. pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan sangat jelas mengandung kekhawatiran tentang materi yang akan diujikan, mampukah mereka menyelesaikannya denga baik atau justru sebaliknya gagal untuk menyelesaikannnya. selain itu, beberapa pertanyaan lain yang semakin menunjukkan  kekhatiran mereka menjadikan saya selaku guru harus mampu memberikan jawaban yang menyakinkan bahwa sebenarnya mereka pasti bisa, walaupun sebenarnya secara pribadi saya pun merasa khawatir, tapi jika kekhawatiran itu saya perlihatkan bukannya penyelasaian yang akan ditemukan melainkan tambahan beban yang menjadikan mereka semakin pesimis dalam mengikuti ujian. 

Berikut sepenggal cerita dibalik ujian SBdB kelas 6 tahun ini .

“Bu, ujian praktik SBdP itu bagaimana?. Tolonglah bu kami khawatir tak bisa mengerjakannya.”


“Tenanglah sayang, jangan katakan TIDAK BISA tapi katakanlah SAYA PASTI BISA bukankah perkataan itu adalah doa, jadi jika bilang tidak bisa kan sama saja berdoa ya Allah semoga saya tidak bisa, gimana maunya berdoa tidak bisa atau berdoa agar bisa? tentu maunya bisa kan, jadi jangan bilang tidak bisa lagi ya sayang.”


“Bu, kami selalu ingat akan hal itu. Kami benar-benar ketakutan. Oke bu, kami akan berusaha. Maaf.”

“Bu boleh minta bocoran materi untuk ujian praktik nanti tidak? bagaimana penilaian dan bahannya?

Setelah kami baca sepintas, waduh ternyata susah bu, sebagian kami susah menghafalkanya dan juga kami masih bingung kira-kira bahan membuat patungnya dari bahan apa? mengingat kami  tak pernah melakukannya selain dari bahan plastisin. Bantu kami ya bu. Maksud kami tugasnya jangan sulit-sulit bu?”

“Tenanglah sayang, jangan berkata WADUH. Sudahlah, Insya Allah ibu dapat membimbing kalian untuk mempersiapkan ujian praktik itu. pertama pelajari dulu dan fahami dulu materinya dengan baik, jika masih bingung juga jangan takut bertanya setelah itu jangan lupa tersenyum.”

Mendengar nasehat santai itu sebagian mereka langsung tersenyum, ada yang menarik nafas panjang menandakan perasaan lega. semoga saja ujian ini menjadikan mereka tetap tersenyum puas dengan hasil maksimal, dalam hati saya bergumam terima kasih ya Allah, mereka bisa tersenyum dengan lega semoga senyuman mereka sedikit banyaknya dapat mengurangi beban pikiran mereka karena bagaimanapun juga tidak dipungkiri bahwa tidak mudah mempersiapkan mereka untuk lulus ujian praktik dengan nilai bagus, mengingat ujian praktik yang mereka hadapi adalah praktik yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya.

Ya Allah ampunilah rekan-rekan guru yang terlupa untuk melaksanakan pembelajaran praktik, sehingga ujian praktik membuat para siswa khawatir bahkan ketakutan. … Insya Allah tulisan ini dibaca oleh rekan-rekan guru dan segera membantu siswanya agar siap ujian, khususnya ujian praktik tak menambah beban psikologisnya. Disini saya harus membantu hingga mereka siap menghadapi ujian. Untuk itu Saya harus membawa nalar mereka untuk melakukan ujian praktik SBdP dan Alhamdulillah semua berjalan sesuai harapan (to siswa kls 6A SD MUTU KAWI)

By : Agustina, S.Pd, M.Pd (Guru kelas 6A)

Rabu, 27 Maret 2019

Kelasku Bersama al-Qur'an




Alhamdulillah atas rahmat Allah SWT, kita semua diberikan kesehatan nikmt yang tak terukur, salah satunya nikmat penglihatan, sampai kita bisa membaca secuil artikel ini.

Hai hamba Allah, apakah kamu sudah bisa membaca Al-Quran dengan baik dan benar? Apakah kamu yakin bahwa bacaan Quranmu selama ini sudah sesuai dengan bacaan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam? Apa kamu percaya diri bahwa kamu telah membaca setiap huruf dalam Al-Quran sesuai dengan sifat-sifatnya dan tepat pula makhroj-nya? Kapan terakhir kali kamu membaca Al-Quran sambil didengar oleh guru dan dikoreksi kesalahan-kesalahannya?
hari ini kita mau membahas ilmu tajwid. Seberapa penting ilmu tajwid itu? ilmu tajwid merupakan bagian dari ulumul Quran yang perlu di pelajari.
Banyak dari kita yang sudah bisa membaca Al Quran namun tidak memperhatikan tajwidnya. Makhrajul hurufnya, panjang pendeknya, hukum bacaanya sering tidak di perhatikan. Padahal saat kita membaca Al Quran dan kita salah dalam tajwidnya itu menyebabkan kita merubah arti dari Al Quran. 
Bahaya kan ???
oleh karena itu ilmu tajwid sangat penting untuk di pelajari agar selain bacaan kita menjadi benar tentu juga memberikan arti yang benar atas ayat yang sedang kita baca. 

yuk... biar tidak berlama-lama 

Pertama kita mau bahas pengertian dari tajwid itu sendiri. Ilmu tajwid adalah sebuah disiplin ilmu yang menguraikan dan mempelajari cara bacaan Al Quran dengan baik dan benar. Sedangkan menurut istilah : ilmu tajwid adalah ilmu yang berguna untuk mengetahui bagaimana melafalkan huruf yang benar dan dibenarkan, baik berkaitan dengan sifat, mad dan sebagainya misal Tarqiq, Tafkhim, dan selain keduanya.

"Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya." (HR. Bukhari)

Apa sih untungnya belajar tajwid sebelum membaca al-qur'an ???
mau tauuu, ini denganrkan baik-baik penjelasannya
dengan belajar ilmu tajwid maka kita akan :

1. Dapat melafalkan huruf huruf ijaiyah dengan baik, sesuai makhraj dan sifatnya.
2. Dapat menjaga kemurnian bacaan Al Quran, sehingga sesuai yang di ajarkan Rasulullah SAW. Seperti di jelaskan dalam QS. Al Qiyamah ayat 17.
3. Dapat Menjaga lisan agar tidak terjadi kesalahan yang mengakibatkan terjerumus perbuatan dosa.

selanjutnya ilmu tajwid itu terbagi menjadi 9 yaitu:
1. Makharijul Huruf
2. Hukum Ghunnah dan Idhgam
3. Hukum Nun Sukun dan Tanwin.
4. Hukum Mim Sukun
5. Hukum Lam Tarif
6. Hukum Idgham
7. Qalqalah
8. Tafkhim dan Tarqiq
9. Bacaan Mad.

sekian dulu penjelasan singkat tentang ilmu tajwidnya, sekarang saya mau bercerita sedikit tentang sekolahku dan al-qur'an.
Sekolah dasar dikatakan sebagai kegiatan yang mendasari tiga aspek dasar, yaitu pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Ketiga aspek ini merupakan dasar atau landasan pendidikan yang paling utama. Dari 3 aspek itulah yang memberikan support atas penerapan pembelajaran alquran, baik tata cara membca, cara membawa alquran, hal-hal yang perlu dilakukn sebelum membaca alquran, dsb. Sehingga adanya keterkaitan dari aspek pengetahuan,sikap, ketrampilan inilah yang sangat membantu berjalannya belajar membaca alquran.
Kami dari SD MUHMMADIYAH 1 MALANG  selalu menerpakan bebagai metode yang sekirannya anak peserta didik tak bosan-bosannya disuapin bacaan ayat-ayat suci alquran di setiap harinnya.

Nah, setelah baca ini apa kamu masih enggan untuk belajar Quran? Semoga Allah gerakkan hati kita untuk memuliakan kitabNya. Aamiin Allahumma Aamiin


By : Abdul Mujib, S.Pd (Guru Kelas 3B)

Selasa, 26 Februari 2019

Kelas

ruang ini berisi seputar pembelajaran di SD Muhammadiyah I Malang, baik pembelajaran di dalam kelas maupun di luar kelas,
pembelajaran yang dimaksud tidak hanya oleh guru tetapi juga oleh orang tua dan sponsor-sponsor yang telah bekerjasama dengan sekolah.

Info Terbaru

Update

“MORE ADVANCE” SD MUTU KAWI SUKSES DIGELAR

  MILAD – Hampir setiap manusia merayakan hari jadinya dengan suka cita, tak terkecuali dengan sebuah instansi pendidikan, yang mana mereka ...