sdmutukawi.blogspot.com/search/label/kelas
Jumat, 06 September 2019
Juara Duta Anti Narkoba 2019 Kota Malang
Asyifa Nuriya Zahra,
Seorang siswi berprestasi SD Muhammadiyah 1 Malang kelas 5B ini telah mengukir prestasi yang sangat gemilang. Asyifa telah menjuarai lomba duta anti NARKOBA pada tanggal 28 Agustus 2019. Lomba ini tidak dilaksanakan dalam waktu sehari saja, tetapi dilakukan dalam waktu kurang lebih dua minggu.
Lomba dilakukan secara bertahap, tahap pertama dimulai dengan seleksi sejumlah 100 peserta dan hanya diambil 20 besar dengan melalui tes tulis dan wawancara. tahap kedua dari 20 peserta diambil 10 besar dengan melalui tes tulis, perilaku, materi yang diujikan adalah materi narkoba dan penglaman. tahap ketiga dari 10 besar daimbil satu juara perempuan dan satu laki-laki dengan melalui tes wawancara. Pada akhirnya Asyifa Nuriya Zahra menjadi juara umum Duta anti NARKOBA.
Seusai mendapat juara umum satu, Asyifa memiliki banyak kegiatan berupa sosialisasi anti NARKOBA di kampung pada kegiatan gerak jalan. Sosialisasi anti NARKOBA di Taman Kanak-kanak. Sosialisasi anti NARKOBA di SD Muhammadiyah 1 Malang pada kegiatan tahun baru Islam 1 Muharram 1441.
Selain Asyifa menjuarai duta anti NARKOBA, Asyifa memiliki prestasi yang lain seperti; Juara dua Cerdas Cermat Taman Kanak-kanak, Juara 1 senam kelompok pada acara PETAPEM di tahun 2017, Juara 2 Da'i se-Kota Malang pada tahun 2018, Juara 2 mendongeng se-Malang raya pada acara PETAPEM di tahun 2018, dan Juara 1 Duta Cilik Anti NARKOBA tahun 2019.
Kamis, 27 Juni 2019
Membangun kelembutan hati melalui karya dan pujian
Literasi merupakan salah satu hal yang sangat penting di setiap Instasi pendidikan, salah satunya adalah di SD Muhammadiyah 1 kota Malang, tujuannya adalah untuk memperkenalkan sekolah serta membuka jaringan dengan dunia luar. Pada acara perpisahan kelas 6 yang dilaksanakan pada tanggal 22 Juni kemarin ada berbagai karya yang telah ditorehkan oleh bapak/ ibu guru serta siswa kelas 6, selain itu ada juga beberapa penghargaan yang diberikan dari sekolah untuk guru dan beberapa siswa yang berprestasi. Hal ini dibuktikan dengan peluncuran buku dengan tema “Aku dan Temanku” yang merupakan hasil karya dari siswa kelas 6 dan juga ada penyerahan penghargaan yang diterima siswa-siswi yang berprestasi dalam bidang akademik dan non akedemik serta ada juga penghargaan yang diterima oleh beberapa bapak/ibu guru yang sudah menghasilkan sebuah karya yang berupa tulisan sebagai “Guru penggerak Motivasi Literasi”.
Dalam penerimaan penghargaan atas karya yang telah dihasilkan ini perlu diingat bahwa dalam setiap karya tidak akan luput dari setiap pujian dan kekaguman dari berbagai pihak. MendapatÄ·an pujian merupakan momen yang sangat baik bagi kita untuk selalu mengingat Allah agar terhindar dari sifat membanggakan diri sendiri serta untuk membangun kelembutan hati, bahkan kita selalu diajarkan jika tidak ada pujian yang berarti selain dari Allah. Karena Allah berfirman dalam Q.S An Najm:32 yang artinya, “ Janganlah kalian memuji-muji diri kalian sendiri, karena Dialah yang paling tahu siapa yang bertaqwa.” Selain itu ada sebuah doa yang diriwayatkan dari sahabat nabi saat beliau dipuji. Doa tefsebut adalah “Allahumma laa tu aakhidzni bimaa yaquuluun waghfirli maa laa ya’lamuun waj’alni khoiron mimma yadhunuun.” Yang artinya,” Ya Allah, jangan engkau menghukumku disebabkan pujian yang dia ucapkan. Ampunilah aku atas kekurangan yang tidak mereka ketahui. Dan jadikan aku lebih baik daripada penilaian yang mereka berikan untukku.” (riwayat Bukhari dalam adabul mufrad (no. 76)).
Setelah mengetahui doa tersebut mari kita selalu mengamalkan doa ini agar terhindar dari potensi ujub atau membanggakan diri sendiri.
Semoga dengan setiap huruf yang merangkai tulisan ini dicatat sebagai amal shaleh yang bermanfaat, memberi taufik pada setiap pembaca budiman untuk mengamalkan kebaikan yang didapati. Aamiin
Wallaahu a’alam bis shawwab
By:Angga
Selasa, 25 Juni 2019
Audinna Mengukir Nama di Kancah Nasional
Usaha Tak Mengkhianati Hasil
Prestasi demi prestasi seakan tidak mau lepas dari sosok Audina Triafsyani siswi yang baru saja naik ke kelas 5 di SD Mutu Kawi.
Siswi yang akrab disapa Audinna ini beberapa waktu yang lalu tepatnya hari Sabtu-Ahad tanggal 23-24 Juni 2019 kembali berhasil mengharumkan nama sekolah di tingkat nasional.
Audinna yang mulai menemukan bakatnya di dunia bela diri ini sebelumnya juga telah membuka tahun 2019 dengan menorehkan prestasi juara 1 bela diri cabang fight tingkat Asia Eropa di Bandung.
Prestasi Asia Eropa ternyata menjadi cambuk bagi Audinna untuk terus berprestasi di dunia bela diri terbukti dengan digapainya posisi ketiga pada cabang Fight usia dini dalam event Malang Championship 1 kejuaraan nasional.
Event yang dilaksanakan di Gor Ken Arok Kedungkandang Kota Malang ini diikuti kurang lebih 2800 peserta yang tersebar dalam beberapa cabang lomba, peserta adalah atlet-atlet terbaik dari penjuru nusantara dan beberapa peserta luar negeri.
Meraih juara 3 dalam event skala nasional dengan jumlah peserta yang banyak tentulah tidak mudah, dibutuhkan ketahanan fisik dan keseriusan ekstra untuk dapat meraihnya. Oleh karena itu, jauh sebelum pertandingan Audinna dipandu team telah melakukan latihan fisik.
Latihan yang dilakukan setiap pagi dan sore selama kurang lebih 2 minggu ternyata tidak sia-sia, "terima kasih kepada pelatih yang telah membina dengan sabar," imbuh Audinna.
By :Sahran, M.PdI
Prestasi demi prestasi seakan tidak mau lepas dari sosok Audina Triafsyani siswi yang baru saja naik ke kelas 5 di SD Mutu Kawi.
Siswi yang akrab disapa Audinna ini beberapa waktu yang lalu tepatnya hari Sabtu-Ahad tanggal 23-24 Juni 2019 kembali berhasil mengharumkan nama sekolah di tingkat nasional.
Audinna yang mulai menemukan bakatnya di dunia bela diri ini sebelumnya juga telah membuka tahun 2019 dengan menorehkan prestasi juara 1 bela diri cabang fight tingkat Asia Eropa di Bandung.
Prestasi Asia Eropa ternyata menjadi cambuk bagi Audinna untuk terus berprestasi di dunia bela diri terbukti dengan digapainya posisi ketiga pada cabang Fight usia dini dalam event Malang Championship 1 kejuaraan nasional.
Event yang dilaksanakan di Gor Ken Arok Kedungkandang Kota Malang ini diikuti kurang lebih 2800 peserta yang tersebar dalam beberapa cabang lomba, peserta adalah atlet-atlet terbaik dari penjuru nusantara dan beberapa peserta luar negeri.
Meraih juara 3 dalam event skala nasional dengan jumlah peserta yang banyak tentulah tidak mudah, dibutuhkan ketahanan fisik dan keseriusan ekstra untuk dapat meraihnya. Oleh karena itu, jauh sebelum pertandingan Audinna dipandu team telah melakukan latihan fisik.
Latihan yang dilakukan setiap pagi dan sore selama kurang lebih 2 minggu ternyata tidak sia-sia, "terima kasih kepada pelatih yang telah membina dengan sabar," imbuh Audinna.
By :Sahran, M.PdI
Gebyar Literasi di Acara Pelepasan Angkatan 86 SD MUTU KAWI
Literasi menjadi salah satu budaya penting di sekolah sebagai sarana perkembangan wawasan dan kreatifitas peserta didik. Sekolah Dasar Muhammadiyah 1 Malang menjadi salah satu sekolah yang sangat memperhatikan literasi peserta didik. Hal itu terlihat dari acara pelepasan siswa-siswi angkatan ke 86 yang dijadikan ajang gebyar literasi sebagai usaha sekolah memotivasi semua orang agar tergerak mengembangkan literasi.
Salah satu kejutan literasi yang terjadi di acara pelepasan siswa-siswi ini adalah adanya penghargaan bagi guru. Setelah siswa-siswi dengan prestasi nilai terbaik selama ujian mendapat penghargaan, acara dilanjutkan dengan adanya pengumuman penghargaan terhadap guru. Ada 6 guru yang diminta maju ke atas panggung untuk menerima penghargaan sebagai guru penggerak motivasi literasi.
Penggerak motivasi literasi yang dimaksud dalam penghargaan ini adalah, guru-guru yang sudah menulis artikel tentang sekolah sebagai bahan pengisi web resmi SD Muhammadiyah 1 Malang. Penghargaan ini diberikan agar memotivasi bapak/ibu guru yang lain untuk berani menyalurkan tulisan-tulisan inspiratif mereka, sehingga kedepannya web sekolah bisa terisi dengan berbagai macam artikel sekolah yang informatif, inovatif dan inspiratif.
Selain penghargaan guru penggerak motivasi literasi, ada satu kejutan lagi yang menjadi puncak gebyar literasi di acara pelepasan angkatan 86 SD MUTU Kawi, yaitu peluncuran buku berjudul "Aku dan Temanku". Buku ini menjadi kejutan yang sangat berharga bagi siswa-siswi yang akan melanjutkan pendidikan ke tingkat selanjutnya, karena di dalam buku ini berisi tulisan-tulisan asli peserta didik tentang pengalaman pribadi mereka selama menempuh pendidikan di Sekolah Dasar Muhammadiyah 1 Malang tercinta. Berkat buku ini kenangan yang awalnya hanya bisa mereka ingat lewat pikiran bisa mereka baca berulang-ulang.
Semoga dengan adanya penghargaan guru penggerak motivasi literasi dan buku antalogi siswa-siswi menjadi motivasi meningkatnya budaya literasi di SD Muhammadiyah 1 Malang.
"Luaskanlah Pengetahuanmu dengan Membaca dan Ikatlah Pengetahuanmu dengan Tulisan."
By : Ayi Yulianisa, S.Pd
Salah satu kejutan literasi yang terjadi di acara pelepasan siswa-siswi ini adalah adanya penghargaan bagi guru. Setelah siswa-siswi dengan prestasi nilai terbaik selama ujian mendapat penghargaan, acara dilanjutkan dengan adanya pengumuman penghargaan terhadap guru. Ada 6 guru yang diminta maju ke atas panggung untuk menerima penghargaan sebagai guru penggerak motivasi literasi.
Penggerak motivasi literasi yang dimaksud dalam penghargaan ini adalah, guru-guru yang sudah menulis artikel tentang sekolah sebagai bahan pengisi web resmi SD Muhammadiyah 1 Malang. Penghargaan ini diberikan agar memotivasi bapak/ibu guru yang lain untuk berani menyalurkan tulisan-tulisan inspiratif mereka, sehingga kedepannya web sekolah bisa terisi dengan berbagai macam artikel sekolah yang informatif, inovatif dan inspiratif.
Selain penghargaan guru penggerak motivasi literasi, ada satu kejutan lagi yang menjadi puncak gebyar literasi di acara pelepasan angkatan 86 SD MUTU Kawi, yaitu peluncuran buku berjudul "Aku dan Temanku". Buku ini menjadi kejutan yang sangat berharga bagi siswa-siswi yang akan melanjutkan pendidikan ke tingkat selanjutnya, karena di dalam buku ini berisi tulisan-tulisan asli peserta didik tentang pengalaman pribadi mereka selama menempuh pendidikan di Sekolah Dasar Muhammadiyah 1 Malang tercinta. Berkat buku ini kenangan yang awalnya hanya bisa mereka ingat lewat pikiran bisa mereka baca berulang-ulang.
Semoga dengan adanya penghargaan guru penggerak motivasi literasi dan buku antalogi siswa-siswi menjadi motivasi meningkatnya budaya literasi di SD Muhammadiyah 1 Malang.
"Luaskanlah Pengetahuanmu dengan Membaca dan Ikatlah Pengetahuanmu dengan Tulisan."
By : Ayi Yulianisa, S.Pd
Senin, 24 Juni 2019
Angkatan_86 Mengukir Sejarah Baru
Acara perpisahan lembaga sekolah adalah rutinitas tahunan yang hampir bisa dipastikan dilakukan oleh semua sekolah, mulai dari tingkatan TK bahkan sampai pada tingkat perguruan tinggi.
Begitu pula SD Muhammadiyah 1 Malang yang tahun ini kembali berhasil meluluskan 47 siswa siswinya, lulusan yang familiar disebut dengan angkatan 86 ini telah memberikan warna baru pada proses pelepasan atau penyerahan kembali kepada orang tua setelah menyelesaikan pendidikan selama 6 tahun di SD Mutu Kawi.
Jika bertanya apa yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, jawabannya tentu tidak banyak yang berbeda karena acaranya tetap sama yaitu pelepasan siswa, namun SD Mutu Kawi punya prinsip inovasi tiada henti, maka tentu setiap kegiatan yang terjadi di SD Mutu haruslah dihiasi dengan inovasi-inovasi kreatif.
Lalu apa inovasi kreatif yang dilahirkan pada perpisahan tahun ini?
"Aku dan Temanku"
adalah sebuah antologi hasil goresan tangan siswa siswi angkatan 86.
Buku ini bercerita tentang perjalanan yang mereka lalui dan rasakan selama menjadi siswa SD Mutu Kawi, ada yang pendiam, pengadu, pemicu amarah, suka melaporkan kesalahan teman ke guru, suka berbagi, curhatan hati teman dekat, pengalaman prestasi, dan banyak kisah yang tidak pernah terlihat dan mungkin tidak terbayangkan oleh satu sama lain bahkan oleh bpk/ibu guru.
Yang lebih menarik dari buku ini adalah Bahwa tidak satupun siswa, orang tua bahkan guru sekalipun yang mengetahui akan adanya launching buku antologi siswa angkatan 86 ini.
Siswa hanya diminta membuat catatan perjalanan mereka selama 6 tahun menempuh pendidikan di SD Mutu Kawi, tanpa sepengatahuan mereka catatan-catatan ini kemudian di edit oleh team yang telah ditunjuk oleh kepala sekolah lalu dikirim ke percetakan untuk dicetak.
Al hasil buku antologi angkatan 86 ini telah menambah suasana perpisahan tahun ini semakin terasa istimewa, ada yang tidak percaya, ada yang tertawa, bahkan ada yang menangis melihat catatan mereka telah menjadi buku yang akan menjadi pengingat mereka disaat kelak mereka rindu dengan teman-teman SDnya.
Terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam buku antologi angkatan 86 ini, semoga ke depan tulisan-tulusan siswa SD Mutu Kawi semakin berkualitas
#Inovasi tiada henti
#edisiliterasi
Oleh : Sahran, M.PdI (Kesiswaan SD Mutu)
Begitu pula SD Muhammadiyah 1 Malang yang tahun ini kembali berhasil meluluskan 47 siswa siswinya, lulusan yang familiar disebut dengan angkatan 86 ini telah memberikan warna baru pada proses pelepasan atau penyerahan kembali kepada orang tua setelah menyelesaikan pendidikan selama 6 tahun di SD Mutu Kawi.
Jika bertanya apa yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, jawabannya tentu tidak banyak yang berbeda karena acaranya tetap sama yaitu pelepasan siswa, namun SD Mutu Kawi punya prinsip inovasi tiada henti, maka tentu setiap kegiatan yang terjadi di SD Mutu haruslah dihiasi dengan inovasi-inovasi kreatif.
Lalu apa inovasi kreatif yang dilahirkan pada perpisahan tahun ini?
"Aku dan Temanku"
adalah sebuah antologi hasil goresan tangan siswa siswi angkatan 86.
Buku ini bercerita tentang perjalanan yang mereka lalui dan rasakan selama menjadi siswa SD Mutu Kawi, ada yang pendiam, pengadu, pemicu amarah, suka melaporkan kesalahan teman ke guru, suka berbagi, curhatan hati teman dekat, pengalaman prestasi, dan banyak kisah yang tidak pernah terlihat dan mungkin tidak terbayangkan oleh satu sama lain bahkan oleh bpk/ibu guru.
Yang lebih menarik dari buku ini adalah Bahwa tidak satupun siswa, orang tua bahkan guru sekalipun yang mengetahui akan adanya launching buku antologi siswa angkatan 86 ini.
Siswa hanya diminta membuat catatan perjalanan mereka selama 6 tahun menempuh pendidikan di SD Mutu Kawi, tanpa sepengatahuan mereka catatan-catatan ini kemudian di edit oleh team yang telah ditunjuk oleh kepala sekolah lalu dikirim ke percetakan untuk dicetak.
Al hasil buku antologi angkatan 86 ini telah menambah suasana perpisahan tahun ini semakin terasa istimewa, ada yang tidak percaya, ada yang tertawa, bahkan ada yang menangis melihat catatan mereka telah menjadi buku yang akan menjadi pengingat mereka disaat kelak mereka rindu dengan teman-teman SDnya.
Terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam buku antologi angkatan 86 ini, semoga ke depan tulisan-tulusan siswa SD Mutu Kawi semakin berkualitas
#Inovasi tiada henti
#edisiliterasi
Oleh : Sahran, M.PdI (Kesiswaan SD Mutu)
Minggu, 05 Mei 2019
Jadi Guru harus mengerti dunia anak
Guru ditengah Permasalahan Sosial Anak di Sekolah.
Sebagai guru kelas yang menemani kegiatan anak-anak di kelas selama jam pelajaran, membuat kami (para guru kelas) mengamati dan berperan langsung dalam setiap tingkah laku peserta didik di dalam kelas. Sekolah yang menjadi salah satu tempat paling berpengaruh dalam perkembangan sosial peserta didik menjadi ajang bagi mereka untuk menunjukkan diri pada orang-orang di sekitarnya. Tidak dapat dihindari, berbagai masalah terjadi di dalam kelas, mulai dari masalah ringan (terjadi dalam kurun waktu singkat) sampai yang kompleks (berlarut-larut).
Anak-anak memiliki berbagai macam komposisi sifat yang berbeda-beda, ditambah dengan segala macam pikiran mereka yang tidak bisa ditebak oleh orang dewasa. Salah satu masalah yang sering terjadi antar siswa dan beberapa siswa lainnya adalah saling membenci dan merasa di benci.
Dalam satu tempat bermain dan tempat sosial yang diisi oleh banyak orang, tentu saja ada satu saat kita merasa tidak cocok dengan salah satu orang. Satu saat, artinya tidak selalu. Sama seperti di dunia sosial anak, ada satu saat dimana anak A merasa tingkah anak B membuatnya tidak suka (meski pada kenyataannya berawal dari masalah sederhana, rasa iri karena nilai bagus, rasa kecewa karena tingkah yang menyebalkan, dll). Hal ini berlanjut dengan anak A yang membicarakan apa yang dia rasakan pada anak B ke teman-temannya yang lain (kita sebut ini adalah curhat), sementara anak B tahu dengan hal itu dan merasa bahwa anak A dan teman-temannya membencinya. Dan pada akhirnya kejadian ini menjadi berlarut-larut karena tidak ada komunikasi yang baik antara anak A dan B. Kejadian ini sering terulang dengan anak-anak yang berbeda. Durasi antar anak-anak yang saling membenci (tidak bermain bersama) itu bisa sampai 1-5 hari.
Sebagai guru kelas, kami harus pintar-pintar memahami situasi ini dan menjadi penengah dengan memberikan pengertian-pengertian tentang pentingnya berprasangka baik dan saling memaafkan dengan bahasa mereka. Menjadi jembatan komunikasi anak-anak, kami harus selalu siap mengadakan sidang (mengecek masalah dari anak-anak yang bermasalah dari sudut pandang masing-masing anak) dan memberikan umpan balik berupa nasehat dan koreksi.
Dalam hal ini, kita perlu menekankan pentingnya berprasangka baik. Mulai dari yang sederhana, kami memberi pengertian bahwa mereka semua tidak bisa menghindari rasa tidak cocok satu sama lain. Artinya, mereka semua pasti ada saatnya tidak suka dengan tingkah atau perkataan temannya, tapi yang perlu diingatkan pada anak-anak adalah hal itu bukan berarti akan menjadi rasa benci yang selamanya.
Kedua sebagai penengah dan jembatan bagi anak-anak yang sedang bermasalah, kita perlu membuat anak-anak tersebut saling menyampaikan apa yang dirasakannya. Hal ini tentu karena akar dari masalah sederhana itu adalah saling bercerita ke teman lain yang tidak bersangkutan. Disinilah peran guru kelas yang tidak boleh dilewatkan. Kami harus bergerak cepat memahami anak-anak dan mengajak mereka berbicara.
Ketiga, kita perlu mengkaitkan ajaran agama sebagai penutup, yaitu pentingnya saling memaafkan. Tentu banyak sekali hal-hal agama yang bisa mengetuk hati anak-anak dalam mengatasi masalah, dan dengan menghubungkan hal agama itu langsung dengan masalah yang mereka hadapi semakin membuat mereka paham bahwa ajaran agama adalah pegangan mereka dalam berbagai hal.
Terakhir, sebagai orang dewasa (tidak hanya guru) kita perlu memahami situasi permasalahan sosial anak dan menjadi penengah yang baik tanpa mengatakan dan menghakimi salah satu dari mereka bersalah. Pintar-pintarlah menjadi penengah yang memberikan pengertian cara bersosialiasi yang baik.
By. Ayi Y Meryana
Sebagai guru kelas yang menemani kegiatan anak-anak di kelas selama jam pelajaran, membuat kami (para guru kelas) mengamati dan berperan langsung dalam setiap tingkah laku peserta didik di dalam kelas. Sekolah yang menjadi salah satu tempat paling berpengaruh dalam perkembangan sosial peserta didik menjadi ajang bagi mereka untuk menunjukkan diri pada orang-orang di sekitarnya. Tidak dapat dihindari, berbagai masalah terjadi di dalam kelas, mulai dari masalah ringan (terjadi dalam kurun waktu singkat) sampai yang kompleks (berlarut-larut).
Anak-anak memiliki berbagai macam komposisi sifat yang berbeda-beda, ditambah dengan segala macam pikiran mereka yang tidak bisa ditebak oleh orang dewasa. Salah satu masalah yang sering terjadi antar siswa dan beberapa siswa lainnya adalah saling membenci dan merasa di benci.
Dalam satu tempat bermain dan tempat sosial yang diisi oleh banyak orang, tentu saja ada satu saat kita merasa tidak cocok dengan salah satu orang. Satu saat, artinya tidak selalu. Sama seperti di dunia sosial anak, ada satu saat dimana anak A merasa tingkah anak B membuatnya tidak suka (meski pada kenyataannya berawal dari masalah sederhana, rasa iri karena nilai bagus, rasa kecewa karena tingkah yang menyebalkan, dll). Hal ini berlanjut dengan anak A yang membicarakan apa yang dia rasakan pada anak B ke teman-temannya yang lain (kita sebut ini adalah curhat), sementara anak B tahu dengan hal itu dan merasa bahwa anak A dan teman-temannya membencinya. Dan pada akhirnya kejadian ini menjadi berlarut-larut karena tidak ada komunikasi yang baik antara anak A dan B. Kejadian ini sering terulang dengan anak-anak yang berbeda. Durasi antar anak-anak yang saling membenci (tidak bermain bersama) itu bisa sampai 1-5 hari.
Sebagai guru kelas, kami harus pintar-pintar memahami situasi ini dan menjadi penengah dengan memberikan pengertian-pengertian tentang pentingnya berprasangka baik dan saling memaafkan dengan bahasa mereka. Menjadi jembatan komunikasi anak-anak, kami harus selalu siap mengadakan sidang (mengecek masalah dari anak-anak yang bermasalah dari sudut pandang masing-masing anak) dan memberikan umpan balik berupa nasehat dan koreksi.
Dalam hal ini, kita perlu menekankan pentingnya berprasangka baik. Mulai dari yang sederhana, kami memberi pengertian bahwa mereka semua tidak bisa menghindari rasa tidak cocok satu sama lain. Artinya, mereka semua pasti ada saatnya tidak suka dengan tingkah atau perkataan temannya, tapi yang perlu diingatkan pada anak-anak adalah hal itu bukan berarti akan menjadi rasa benci yang selamanya.
Kedua sebagai penengah dan jembatan bagi anak-anak yang sedang bermasalah, kita perlu membuat anak-anak tersebut saling menyampaikan apa yang dirasakannya. Hal ini tentu karena akar dari masalah sederhana itu adalah saling bercerita ke teman lain yang tidak bersangkutan. Disinilah peran guru kelas yang tidak boleh dilewatkan. Kami harus bergerak cepat memahami anak-anak dan mengajak mereka berbicara.
Ketiga, kita perlu mengkaitkan ajaran agama sebagai penutup, yaitu pentingnya saling memaafkan. Tentu banyak sekali hal-hal agama yang bisa mengetuk hati anak-anak dalam mengatasi masalah, dan dengan menghubungkan hal agama itu langsung dengan masalah yang mereka hadapi semakin membuat mereka paham bahwa ajaran agama adalah pegangan mereka dalam berbagai hal.
Terakhir, sebagai orang dewasa (tidak hanya guru) kita perlu memahami situasi permasalahan sosial anak dan menjadi penengah yang baik tanpa mengatakan dan menghakimi salah satu dari mereka bersalah. Pintar-pintarlah menjadi penengah yang memberikan pengertian cara bersosialiasi yang baik.
By. Ayi Y Meryana
Minggu, 21 April 2019
...Tips Sukses Ujian...
Siapa
pun yang terlibat dalam dunia pendidikan, mau tidak mau pasti melalui tahap
ujian sebagai penentu kelulusan dan uji kemampuan bahwa mereka benar-benar
sudah mampu untuk berpindah ke jenjang lebih tinggi.
Setiap
tahun UN (Ujian Nasional) menjadi topik hangat yang tidak habis untuk menjadi
pembicaraan. Dari tahun ke tahun permasalahan UN selalu memberikan warna “Tekanan” yang tidak hanya dirasakan
oleh peserta ujian tapi juga oleh guru dan lembaga sekolah itu sendiri. Jika
peserta khawatir/takut tidak lulus para guru dan lembaga sekolah pun memiliki
ketakutan sendiri akan mendapat image yang tidak baik dari masyarakat karena
tidak mampu meluluskan siswa-siswinya atau mungkin lulus tapi dengan nilai
kurang.
Ketakutan-ketakutan
seperti ini kemudian mendorong sekolah melakukan hal-hal yang menurut mereka
dapat menunjang keberhasilan para siswanya dalam menempuh ujian. Hal seperti
ini baik jika yang dilakukan adalah kegiatan yang menunjang kemampuan siswa dan
kesiapan mental untuk mengikuti ujian. Namun, akan berbeda jika yang dilakukan
adalah hal-hal yang jauh bertentangan dengan kesiapan siswa seperti mendatangi
kuburan, istighozah massal, ke dukun, minum air yang sudah diberi mantra,
menuliskan mantra pada pensil ujian dan lain sebagainya. Harus dipahami
langkah-langkah seperti ini tidak akan memberi efek apapun jika peserta ujian
sendiri tidak memotivasi dirinya untuk belajar dan mengasa mentalnya.
Oleh
karena itu, menurutQ nih sobat hal yang sangat dibutuhkan dalam ujian tanpa perlu
mengikuti seremonial-seremonial seperti di atas adalah:
1.
Tingkatkan Belajarnya
Sobat percaya tidak kalau
kelebihan anak-anak Indonesia adalah meningkatkan belajarnya ketika akan ujian.
Dan bersantai ria selama masa ujian masih jauh. Sadar atau tidak semangat
belajar kita masih sangat rendah, hingga saat ini sebagian besar dari kita
masih belajar hanya ketika berada di lingkungan sekolah dan les-lesan tapi di
luar itu kita lebih asyik dengan dunia yang tidak menunjang pendidikan kita.
Gimana betul tidak sobat???
Padahal jika belajar
menjadi budaya kita di sekolah, les-lesan dan menggunakan waktu luang untuk
belajar maka ujian tidak akan menjadi momok yang menakutkan. Mengapa, karena
ketika ujian sudah datang kita tinggal mengulang dan memperdalam pelajaran-pelajaran
yang sudah kita pelajari tidak perlu mengulang dari NOL. Gimana????
Pahamilah sobat ....Kunci
belajar adalah bukan mendapat nilai tapi mencari ilmu
Mengapa mencari ilmu,
karena ketika ilmu yang kita miliki maka kepastian nilai pun akan mengikuti
dengan baik, sebaliknya berbeda jika yang kita kejar hanya nilai maka dapat
dipastikan nilai itu hanya akan tertuang di raport atau ijazah namun tidak akan
menambah apapun dalam perjalanan kehidupan kita di dunia yang sebenarnya.
Selepas nilai didapat maka ilmu yang dipelajari sesaat itu pun akan sirna
bahkan mungkin tanpa bekas.
2.
Doa
Do’a adalah hal paling
penting dalam hidup kita, tapi banyak diantra kita yang lalai memanfaatkannya
dengan baik, doa adalah senjata utama kita namun banyak yang tidak menggunakannya
sebagai senjata. Bagi kita yang penting belajar serius padahal perlu sobat
pahami bahwa belajar tanpa doa adalah kesombongan dan doa tanpa usaha belajar
adalah kepasrahan yang tidak berguna. Oleh karena itu, selain harus meningkatkan
gairah belajar juga harus meningkatkan doa bentuk kepasrahan kita sebagai
makhluk lemah yang membutuhkan pertolongan dari sang pemilik segala sesuatu.
3.
Konsentrasi
Setelah belajar dan doa
selanjutnya saat berhadapan dengan soal konsetrasilah penentunya. Banyak peserta
ujian yang gagal hanya karena kecerobohaan dalam menjawab soal, jangan karena
merasa pelajaranya mudah sehingga melupakan konsentrasi. Pahamilah keberhasilan seseorang dalam ujian selain IQ
juga sangat ditentukan sejauhmana tingkat konsentrasinya ketika ujian.
Banyak diantara kita yang
karena tidak terbiasa dengan membaca akhirnya malas ketika berhadapan dengan
soal yang memuat uraian akibatnya soal terkadang tidak terbaca dan tidak
terpahami dengan baik, akhirnya jawaban pun menjadi jawaban asal pilih yang
penting terjawab. Jika hal ini tidak dihindari maka dapat dipastikan jawaban
yang diberikan tidak akan memberikan hasil nilai yang maksimal tapi justru
penyesalan di akhir.
4.
Mental
Kegagalan lain yang
terkadang terdepan dalam menjatuhkan seseorang dalam ujian adalah karena
lemahnya mental yang dimilikinya. Oleh karena itu, bagi setiap peserta ujian
kuatkan mentalmu dulu yah...
5.
Jangan lupakan
guru-guru kita
Terakhir dan sangat
penting nih datangi guru-gurumu yang TK bagi yang SD, SD bagi yang SMP, SMP
bagi yang SMA sederajat. Doa mereka akan memberikan kemudahan bagi ujian kalian
....
MENCONTEK
BAIK UNTUK SESAAT, TAPI KETIKA BERKOMPETISI DENGAN YANG
LAIN HASILNYA PASTI
NIHIL
SO
G’
USAH NYONT3K Y@H...
Langganan:
Postingan (Atom)
Info Terbaru
Update
“MORE ADVANCE” SD MUTU KAWI SUKSES DIGELAR
MILAD – Hampir setiap manusia merayakan hari jadinya dengan suka cita, tak terkecuali dengan sebuah instansi pendidikan, yang mana mereka ...
-
Acara perpisahan lembaga sekolah adalah rutinitas tahunan yang hampir bisa dipastikan dilakukan oleh semua sekolah, mulai dari tingkatan TK ...
-
Usaha Tak Mengkhianati Hasil Prestasi demi prestasi seakan tidak mau lepas dari sosok Audina Triafsyani siswi yang baru saja naik ke kelas...
-
MUHAMMADIYAH FUTURE SCHOOL (MFS) 2019 Muhammadiyah Future School atau yang biasa disingkat MFS adalah salah satu rangkaian ...


